Kala si Kecil Sakit

26 Jan 2010

dsc028991Berada terus disampingnya. Itulah yang sebisa mungkin saya lakukan jika si kecil saya sakit atau tidak enak badan. Meski sebenarnya susah dilakukan karena saat yang sama saya juga punya tanggung jawab terhadap pekerjaan kantor, tapi panggilan hati sebagai seorang bunda memaksa saya untuk berani sementara “melupakan” kantor dan menggantinya dengan mengurus total si kecil yang entah sebuah kebetulan atau tidak, saat si kecil sakit biasanya ia menjadi lebih sensitif dan manja dibandingkan hari-hari biasanya.

Seperti yang saya hadapi saat ini. Karena si kecil yang sedang tidak sehat, saya paksakan untuk tidak masuk kerja. Tanda-tanda si kecil sudah mau sakit sebenarnya sudah saya tangkap sejak hari sabtu sore kemaren. Si kecil yang jarang sekali pilek sore itu (maaf) menunjukkan ingus yang keluar dari hidungnya. Ingus, ingus … nda (bunda) … mau diyap (dilap) pintanya pada saya. Tapi karena muncul ingusnya timbul tenggelam, sabtu sore muncul tapi sepanjang minggunya hilang, saya jadi kurang begitu serius mencegah supaya tidak jadi pilek. Dari 3 agenda acara yang sebelumnya direncanakan untuk datang di hari minggu, saya masih “tega” mengajak si kecil datang ke salah satu acara itu. Sungguh kalau saya tahu si kecil bakalan sakit, saya akan tolak mati-matian permintaan suami yang pengen ngajak anaknya turut serta ke acara-acara itu. Tapi sudahlah … nasi sudah menjadi bubur :(Hari senin siang di kantor, saya ditelpon ibu mengabarkan si kecil mulai batuk. Hmmm memang tidak jauh, bisanya kalau sudah pilek pasti juga disertai dengan batuk. Ibu meminta ijin kepada saya untuk memberikan obat ke si kecil. Mmmm, iya kebetulan saya termasuk ketat terhadap urusan pemberian obat anak, tidak setiap keluhan yang terjadi pada si kecil akan terus saya beri dia obat. Kalau memang sudah sangat sangat terpaksa (biasanya setelah observasi beberapa hari) baru akan saya berikan ia obat. Jadi karena alasan inilah, siapapun yang akan memberikan obat untuk Aliyyah harus atas ijin saya dulu, meski itu eyangnya. Dan, karena saat menerima telpon ibu saya juga mendengar suara Aliyyah yang sedang batuk (lumayan dalam ternyata batuknya), akhirnya saya ijinkan ibu memberikan obat untuk Aliyyah.

Rupanya batuk bukan satu-satunya keluhan Aliyyah yang ibu saya kabarkan pada saya di hari senin kemaren. Malamnya sekitar jam 7, beberapa menit setelah saya selesai meeting, saya di SMS adik saya mengabari kalau Aliyyah demam tinggi (sekitar 38.6 pengukuran di dahi dan 39.2 pengukuran di telinga. Sama seperti ibu saya sebelumnya, adik juga meminta ijin saya untuk memberikan paracetamol untuk Aliyyah. Saya yang selalu “keder” jika mendapati si kecil demam tinggi langsung menyuruh adik saya segera memberikan obat penurun panas (paracetamol). Huuugh, ingin rasanya saat itu saya berlari pulang, mendekapnya dan mendampinginya. Apa daya … atasan meminta saya menyelesaikan kerjaan yang sebenarnya memang ditergetkan “kirim” hari itu. Yaaaah … mau tidak mau (dan tentunya dengan hati yang menahan perih karena rasa bersalah pada anak), saya mengundur kepulangan sampai pekerjaan selesai dan terkirim. Alhamdulillah, akhirnya jam 8-an kerjaan kelar dan bisa terkirim.

Di jalan, kebetulan suami menjemput, saya sudah tidak bisa konsentrasi. Memikirkan keadaan Aliyyah di rumah bagaimana. Sebelumnya saat masih di kantor saya meminta ibu dan adik saya jangan dulu pulang ke rumah, sampai saya benar-benar sudah tiba di rumah. Bukan apa, meski ada pengasuhnya saya merasa lebih nyaman kalau Aliyyah ditunggui dan dijaga eyang dan tentenya. Akhirnya hampir jam 10 saya tiba di rumah, dan Aliyyah sudah tidur.

Meski badan rasanya sudah capek banget dan butuh juga istirahat, saya tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak kalau harus terus memantau suhu tubuh Aliyyah yang saat saya pulang saja masih cukup tinggi. Aliyyah sendiri juga tampaknya kurang begitu nyaman dengan kondisi tubuhnya, tidurnya tidak nyenyak karena nglilir (terjaga). Dan benar, sekitar jam 1/2 4 karena suhu tubuhnya kembali naik, saya kembali memberikan obat penurun panas untuk Aliyyah.

Paginya seperti yang saya sebutkan diatas, karena pertimbangan suhu tubuh Aliyyah masih belum stabil saya putuskan tidak masuk kerja. Heh, agak ragu juga awalnya, karena dikantor sebenarnya kerjaan juga lagi lumayan padat (maklum awal-awal minggu). Tapi ya itu, ingat bagaimana hari senin sebelumnya kerjaan bener-bener ngga bisa “diinterupsi” meski sekedar untuk pulang tepat waktu (ibu saya malah sampai menyarankan saya meminta ijin keluar dari meeting demi si kecil yang malam itu katanya benar-benar mengkhawatirkan), saya jadi agak sangsi juga masuk …. khawatir padatnya kerja membuat saya melupakan anak yang hari ini tentu lagi sangat membutuhkan perhatian saya. Jujur saya sangat khawatir kalau si kecil demam tinggi seperti ini. Kalau sekedar batuk pilek sih saya masih bisa tega meninggalkan si kecil “dirawat” pengasuhnya. Tapi kalau demam, saya tidak mau mengambil sekecil apapun resiko yang mungkin terjadi akibat kelalaian pengasuhnya. Berlebihan takut saya ? Ah tidak juga … bukannya lebih baik “menjaga” dari pada “kena” kan. Bismillah … mudah-mudah keputusan saya untuk tidak masuk kerja adalah benar. Amiin.


TAGS sakit si kecil bunda


-

Author

Follow Me