Dicari : Sekolah yang Ramah Anak !

31 Jan 2010

dsc016931Tersebutlah sebuah sekolah bernama X. khususnya Jakarta dan sekitarnya lumayan terkenal. Sekolah yang membuka jenjang belajar dari tingkat Play Group (PG) sampai dengan SMP dan SMA dan memiliki banyak sekali cabangnya ini di Cibubur ternyata juga ada. Dalam rangka memindahkan si kecil ke (sekolah) PG dan proses mencarikan sekolah, saya (dan suami) juga terbersit untuk memasukkan si kecil kesini. Selain nama besar sekolah dan “dengar-dengar” kualitasnya yang bagus, lokasi yang strategis (jarak cukup dekat dengan rumah dan akses kendaraannya mudah) menjadi daya tarik kami ingin memasukkan anak disini. Dan dengan fasilitas trial yang diberikan secara gratis, beberapa waktu lalu saya pernah mengikutkan si kecil di kelas ini.
Dari hasil trial yang si kecil dan saya ikuti, sepadan dengan namanya yang besar, sekolah ini secara “fisik” memang sangat bagus. Ibarat wajah, sekolah ini masuk kategori menawan. Jangankan si kecil, saya saja yang orang tua senang dan jatuh hati dengan sekolah ini. Tempatnya lapang, kelasnya bersih dan nyaman, mainannya banyak, fasilitas belajarnya juga lumayan lengkap. Ada kolam renang, tempat bermain indoor dan outdoor, mini market, mini post office, mini bank, …. dan mungkin fasilitas yang lain yang tidak saya “lihat” pas menjadi peserta trial beberapa waktu lalu. Si kecil yang baru sekali itu ikut trial saja langsung cinta dan mengaku bahwa X ini adalah sekolahnya. Setiap kami melintasi sekolah ini (karena letaknya memang persis di samping jalan raya), si kecil akan menunjuk dan berkata “itu sekoah aya”. Dan kalau ditanya “apa Aliyyah mau bersekolah disana” si kecil dengan antusias akan menjawab “ya”. Hmmmmm ….. ?!?!

Fasilitas bagus biaya juga “bagus”. Seolah ini menjadi “label” yang melekat di semua cabang sekolah ini. Berdasarkan daftar biaya yang kami terima, untuk tingkat PG nya sendiri tahun ini sekolah X memasang tarif seharga motor baru Honda Vario. Belum biaya tahunan dan biaya bulanan (SPP) yang 2 bulan pertamanya (July & Agustus) juga harus dibayarkan di muka, maka total biaya untuk masuk di PG X ini menjadi lebih plus plus dibanding sekolah PG lainnya yang tidak memiliki nama sebesar sekolah X ini.

Itu dilihat dari biaya masuknya. Dari syarat masuknya sendiri rupanya sekolah ini juga punya kebijakan yang menurut saya berlebihan karena ditujukannya bagi anak-anak usia PG. Kebijakan apa itu ? Test masuk. Anak yang di bulan july ini nanti minimal usianya baru 2 tahun 8 bulan diwajibkan mengikuti test yang hasilnya menjadi penentu diterima atau tidaknya ia di sekolah ini. Masya Allah, baru kali ini saya dengar ada test masuk untuk tingkat PG :(. Jadi kalau saya pengen memasukkan anak ke sekolah ini, selain membayar, anak saya juga harus lulus tes dulu, dan orang tua juga harus “lulus” test wawancara. Wallahu’alam.

Nah karena kami memang ada keinginan menyekolahkan anak disini, hari sabtu kemarin (setelah melalui proses mendaftar yang biayanya juga sudah ikut-ikutan aduhai) kami menjalani proses test masuk. Sesuai jadwal harusnya kami menadapat antrian jam 9.30, namun begitu datang (sekitar jam 9.00) si kecil langsung diminta masuk ke “ruang test”. Si kecil yang pada dasarnya punya “kekurangan” dalam hal bersosialisasi ini tentu saja mendapatkan kendala dengan selonongtest-nya sekolah yang tidak memberikan anak kesempatan bermain-main atau beradaptasi lebih dulu. Meski itu juga tidak hanya ditujukan pada si kecil kami, tapi untuk anak saya yang punya “masalah” dengan adaptasi jelas sangat tidak mudah. Baru datang, masuk ruang test terus langsung “ditest” ini itu.

“Kejamnya” untuk menjalani test ini, anak “harus” sendiri. Orang tua atau pengasuh tidak boleh mendampinginya di dalam ruang. Saya, karena kondisi anak yang memang tidak bisa diminta ujug-ujug lepas dari saya, akhirnya diperbolehkan (sementara) mendampingi si kecil. Di dalam ruangan yang rupanya juga ada beberapa anak peserta test, telah menunggu beberapa orang (dewasa) berseragam yang akhirnya saya tahu sebagai “tim” penguji. Ya saya katakan tim karena orangnya lebih dari satu. Ada 1 kepala sekolah, 2 psikolog anak, 3-4 guru. Dan model testnya : anak disuruh duduk menghadap 1-2 ibu guru dengan dikelilingi kepala sekolah dan psikolog. Materi testnya : Memasang puzzle, mewarnai, “membaca” buku bergambar, menyebut bagian-bagian tubuh, menghitung, …. dan entah apalagi karena anak saya “mogok” tidak mau bersuara maka ia diminta “minggir dulu”, bermain-main yang katanya untuk pemanasan dulu. Pemanasan yang terlambat dan terlalu pendek durasinya :(

Selama “minggir” ini, sambil menunggu anak lain di test, si kecil bermain-main dengan saya. Ia tampak lebih relaks dibandingkan saat berhadapan dengan “penguji”. Mau menyusun puzzle yang diberikan saya bahkan meyebutkan bendanya, menyusun balok-balok dan ring, malah ikut menyanyi saat temannya yang sedang ditest disuruh menyanyi. Tapi ya itu karena memang suaranya juga pelan, ia menyanyi dengan pelan. Saya yang tahu si kecil masih belum nyaman dengan orang-orang di dalam, berusaha membuatnya nyaman. Pelan-pelan saya ajak si kecil mendekat ke salah satu guru (calon penguji) dan memancingnya dengan percakapan. Tapi ya itu … si kecil meresponnya hanya dengan gerak tubuh (yang mau mendekat), bukan dengan kata-kata yang rupanya itu nantinya menjadi penentu “nilai” ujian. Begitu si kecil mau mendekat dan tidak menunjukkan rasa takut pada guru itu, saya berpamitan pada si kecil untuk ke toilet dulu (padahal aslinya saya mau tinggalin dia di dalam ruangan itu :) ). Si kecil mengijinkan dan akhirnya ia berhasil saya tinggal dalam ruangan sendiri untuk ditest.

Berikutnya saya tidak apa yang terjadi di ruangan, karena sudah berada di luar. Sekitar 10 menit kemudian, tidak begitu lama setelah anak-anak peserta test yang lainnya keluar, saya mendengar si kecil menangis. Ingin rasanya saat itu juga saya menghambur dan memeluknya, dan menghentikan “kekejaman” sekolah padanya. Tapi suami melarang, menurut suami sepanjang gurunya tidak meminta kami masuk, berarti tangisan si kecil masih bisa dikendalikan. Dan benar, suara tangisan si kecil sudah tidak terdengar lagi. Beberapa menit selanjutnya saya melihat ia dituntun keluar oleh salah seorang guru penguji, tentunya dengan raut muka takut dan tidak nyaman. Dari guru itu saya mendapat peryataan: Mama … ini ditest Aliyyah terlihat belum siap dari sisi psikologinya. Direkomendasikan dari pihak sekolah katanya untuk Aliyyah akan di-reschedule-kan lagi test-nya dalam satu atau beberapa bulan kedepan … bla bla bla.

Seperti dugaan, dari awal mendaftar dan membaca salah satu syarat diterimanya calon siswa disini adalah lulus test, saya sudah pesimis Aliyyah bisa “langsung” lulus test. Bukan karena merendahkan kemampuan anak, insya Allah bukan, justru karena saya sudah tahu karakter unik anak saya termasuk kekurangannya. Anak saya ikut test kemaren masih dalam usia 2 tahun 2 bulan. Dari kaca mata saya, mengacu pada buku perkembangan mental dan emosi (emososial) anak yang saya baca, anak-anak dalam usia ini masih sangat bergantung dengan lingkungan terdekatnya, terlebih ibu atau pengasuhnya yang lain. Anak menunjukkan rasa tidak nyaman saat berada di tempat baru, baik dengan lingkungan atau orang-orang yang ada di tempat itu, dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Meski pada beberapa anak masalah adaptasi bisa dengan mudah diatasi, tapi pada anak yang lain sebaliknya. Ini tentu saja tidak bisa dibilang kekurangan karena anak memang sedang dalam tahap perkembangan emosi seperti ini. Jadi siapapun yang paham dengan tahap-tahap emososial anak, akan memaklumi jika anak 2 tahun dihadapkan pada lingkungan baru, dengan sekian banyak orang yang tidak dikenalnya dan menanyainya ini itu (meski katanya menanyainya pun dengan cara bermain) … dan tanpa dampingan … tentu akan memberikan reaksi diam atau justru takut. Jadi menurut saya OMONG KOSONG kalau untuk anak baru 2 tahun dilakukan test masuk seperti itu. Tapi meski oleh psikolognya si kecil dinilai belum siap psikologinya, kognitifnya dinilai sudah mampu. Memang sebelum keluar saya sempat melihat si kecil dites. Saat ditanya ini warna apa itu warna apa, ia memang diam tak bersuara. Tapi saat pertanyaannya dibalik menjadi mana warna ini mana warna itu, si kecil bisa menunjukkan dan mengambil warna yang dimaksud gurunya. Pantas gurunya bilang perlu di-rechedule kan lagi testnya :)

Begitu saya diinformasikan re-schedule oleh guru itu, sebenarnya saya sudah pengen langsung membawa anak saya pulang. Sayangnya langkah saya tertahan, karena ternyata masih ada sesi wawancara yang harus saya dan suami ikuti. Pewawancaranya adalah psikolog yang sebelumnya juga menguji anak saya. Dalam wawancara itu, tidak jauh beda seperti yang disampaikan oleh guru sebelumnya, anak saya dinilai belum siap secara psikologi. Aliyyah masih terdiam dan belum mau merespon (secara verbal) perintah yang disampaikan gurunya. Dalam hati, ya iyalah anak baru 2 tahun gitu … meski di rumah lancar dan ceriwis berbicara, tapi kalau dihadapkan pada anda-anda (para penguji itu maksudnya) pasti akan diam. Emang siapa Elo, apa pentingnya lo nanya-nanya gua … kenal aja kagak eh cara nanyanya-pun kayak polisi gitu (mungkin ini yang akan Aliyyah sampaikan kalau ia sudah paham dengan perasaannya, hehehe). Ya sudahlah, next saya ceritakan hal apa saja yang psikolognya tanyakan pada saya dan suami.

Pertama riwayat kehamilan saya. Dia tanya apa ada masalah dengan proses hamil dan melahirkan si kecil dulu. Terus tanya berapa berat dan tinggi lahir si kecil dan dalam usia kehamilan berapa minggu si kecil dilahirkan. Kemudian tanya bagaimana proses transisi makannya si kecil dari halus ke kasar, apakah perlu waktu lama atau tidak. Lalu tanya disiplin apa yang kami, orang tua sudah terapkan pada si kecil. Kemudian ditanya juga kehidupan sosial si kecil, sifat dominannya … sampai jenis makanan yang paling disukainya. Semuanya pertanyaan seputar tumbuh kembang si kecil dah pola pengasuhan yang diterapkan di rumah. Diantara pola pengasuhan yang ditanyakan adalah bagaimana kami mendisiplinkan anak, apakah kami membuat jadwal-jadwal yang harus dilakukan anak seperti jam tidur, makan dan bermain?. Hahaha karena kami bukan tipe orang tua yang “ketat” terhadap anak, saya jawab terus terang ke psikolognya begini : Kami mengajarkan disiplin pada anak menyesuaikan dengan usianya. Jadi tidak mengharuskan anak begini-begitu, kami mengenalkan disiplin dengan cara memberi contoh. Jadi kalau anak sudah kami beri contoh tapi ia tidak mau mengikuti ya buat kami tidak apa-apa, kami akan memakluminya dan terus mengingatkannya (hahaha, padahal niatnya saya mau nyindir ke psikolog itu lho agar tidak terlalu kaku menilai si kecil kami dari sisi psikologi yang menjadi bagian testnya). Senada waktu ditanya jadwal-jadwal apa yang kami terapkan untuk si kecil kami, saya jawab : Ooooh kami tidak kaku Bu, menerapkan jadwal pada anak. Mau tidur jam berapa, ngapain saja, yang saya tekankan ke pengasuhnya (karena sepanjang siangnya saya bekerja) yang penting CUKUP dalam seharinya. CUKUP bermainnya, CUKUP tidur siangnya, CUKUP makan buahnya, CUKUP minum susunya, dan lain-lainnya. Mmmmm … kira-kira hasil wawancara kami dinilai seperti apa ya sama itu psikolog, mengingat kami menjawab semua pertanyaan apa adanya …. dan terkesan lebih “longgar” dalam mendidik dan mengasuh anak. Sutralah, apapun penilaiannya, yang jelas sudah menjadi prinsip kami untuk mendidik dan mengasuh anak seFLEKSIBEL mungkin, mempertimbangkan tahap usia dan perkembangan yang sedang ia jalani, dan yang pasti TIDAK ADA PAKSAAN untuk anak belajar. Penting bagi kami adalah bagaimana anak menikmati setiap PROSES belajar yang ia jalani, bukan HASIL yang biasanya tidak memperhatikan aspek RELA dan BAHAGIAnya ia kala mengikuti kegiatan belajar.

Dari hasil test yang seperti itu kemaren, meski akhirnya masih ada kesempatan untuk sikecil ditest lagi (reschedule) nantinya, terus terang saya sudah merasa “sangsi” menyekolahkan si kecil disini. Bukan pada biayanya yang selangit atau hasil test awalnya yang “kurang” bagus, tapi justru pada pola pendidikan yang nantinya akan diterapkan. Bayangan saya, kalau mau masuknya aja “sesulit” dan “banyak tekanan” seperti ini apalagi nantinya setelah masuk dan mengikuti kegiatan belajar. Ah tapi ini mudah-mudahan hanya bayangan saya saja, dan tidak akan pernah terjadi. Soalnya saya juga bingung, meski saya “ilfil”, si kecil saya malah tetap semangat mau masuk sekolah ini. Habis test kemaren saya ajak ia ke sekolah alam yang rencananya mau kami siapkan untuk tingkat dasar dan lanjutannya kelak (insya Allah). Maksudnya sebagai alternatif sekolah kalau besok ia benar-benar tidak diterima di sekolah X. Saya tawari ia untuk bersekolah PG disana. Huuh … masa jawabannya ngga mau. Dia tetap lebih suka di sekolah X yang jelas-jelas “cukup” berat proses masuknya :D. Ya sudahlah dilihat nanti, manusia hanya berencana dan berusaha … namun Allahlah yang menentukan dan menetapkan. Bismillah … semoga Allah memberikan yang terbaik untuk si kecil kami nanti … meski tidak harus dengan bersekolah disini :)


TAGS murah sekolah ramah anak


-

Author

Follow Me