Biarlah Gaji Hanya Saya yang Tahu :)

19 Feb 2010

Berapa gajimu ? Pernah ngga sih teman-teman ditanya seperti itu, masalah gaji ? Nah kalo saya, kebetulan lumayan sering banget dapat pertanyaan-pertanyaan usil dan ngga penting (menurut saya lho ya) seperti ini. Aiih, bukannya pelit ngga mau masi tahu … tapi memang ada manfaatnya apa kalau saya kasih tahu berapa gaji saya ? Jadiiiii, setiap kali saya ditanya “Henny, gaji kamu berapa”, saya pilih jawab : Alhamdulillah cukup :P

Menyangkut gaji, ini tentu menjadi hal (mengambil istilah teman saya) yang sangat-sangat sensitif. Saking sensitifnya, tidak hanya saya, hampir semua orang sepakat merahasikannya dari orang lain. Uppps, terkecuali atasan dan beberapa pihak orang HRD ding ya :). Tidak enak didengar atau ketahuan orang … bla bla bla, begitu kira-kira salah satu alasan kita merahasiakan gaji pada orang lain. Nah kalo kita saja punya alasan jelas tidak bersedia membuka berapa gaji kita ke orang lain, lalu mengapa ada orang lain yang dengan semangat berusaha mencari tahu berapa besarnya gaji kita ya. Hmmmm, julukan apa coba yang kira-kira pantas diberikan pada orang semacam ini ? RESE, ya kita sebut saja ya orang-orang itu dengan sebutan si Rese, hehehe
Bicara tentang gaji, berarti bicara tentang rejeki. Dan namanya rejeki, sudah pasti itu datangnya dari sang pemilik rejeki. Dan karena rejeki itu adalah pemberian dari Illahi, berapapun, besar atau kecil wajib kita syukuri. Ngga usahlah pengen tahu berapa gaji orang, alih-alih mensyukuri, bisa jadi lho setelah kita tahu gaji orang lain lalu jadi iri karena ternayata gaji orang lain itu lebih tinggi dari gaji kita. Atau malah jadi takabur, karena merasa gaji kita jauh lebih tinggi dari gaji orang lain.

Kalau saya perhatikan, biasanya orang yang ingin tahu gaji orang lain itu akan terus membandingkan. Tentunya dengan gaji dia sendiri. Nah masalahnya sering orang itu tidak puas dengan hanya membandingkan. Biasanya dia akan terus membuat kesimpulan atau penilaian-penilaian yang subyektif, yang sudah pasti se-enak udele- dhewe (alias seenaknya sendiri). Apalagi kalau (maaf maaf ya) yang tanya itu teman sekantor, lebih-lebih se-divisi atau se-departemen, haduh, pasti gemanya (atau gaungnya ya) bersahut-sahutan tak berhenti. Yang bilang beginilah … begitulah, ah, ujung-ujungnya menjadi iri atau sinis, begitu tahu gaji kita yang sesungguhnya. Karena, untuk orang-orang rese seperti ini berapapun gaji kita (meski hanya sedikit tinggi) kan dianggapnya tidak pantas kita terima. Buat mereka, harusnya kita selalu dan tetap “dibawah” mereka. Ngga mau kesaing gitu lho intinya :D

That’s way saya selalu bilang Alhamdulillah cukup, setiap kali ada orang rese yang tanya berapa gaji saya. Malah kalau yang tanya orang kantor, saya akan dengan senang hati menjawab ” … mmm, pasti lebih kecil dari gaji kalian, … karena disini kan saya masih baru dan junior”. Terkesan merendah ya, but …. kayaknya memang itu kok jawaban yang mereka inginkan dari saya. Aha, padahal, sudah pasti yang namanya gaji itu tidak berdasar pada baru atau lamanya seseorang bekerja ya … tapi pada performa yang kita tunjukkan atau berikan pada perusahaan. Ya sudahlah, kalau itu sudah membuat mereka tenang dan senang … saya tidak keberatan. Lha saya juga malah jadi tenang kan, karena mereka ngga bakal ngiri pada saya, hehehe. Jadi emang berapa gaji loe, Hen ? Ya itu, alhamdulillah cukup. Cukup untuk memenuhi kebutuhan, cukup untuk ditabung, dan cukup untuk dibagikan :) Begini saja jawaban saya, aman kan, hehehe


TAGS gaji pribadi syukur


-

Author

Follow Me