Hari Pertama Sekolah

12 Jul 2010

img00544-20100712-062211Semangat, itu pesan yang ingin saya sampaikan pada si kecil saya di hari pertamanya sekolah hari ini dan tentunya seterusnya :). Ya, berbeda dengan sekolahnya yang dulu di Sanggar Bona, di sekolahnya yang sekarang (Sekolah Alam & Sains Al Jannah), si kecil saya Aliyyah sepertinya akan lebih “berat” tantangannya. Pertama letak sekolah yang lumayan jauh dan keputusan kami yang “mengikutkan” aliyyah pada mobil antar jemput sekolah. Kedua jadwal belajar yang berlangsung setiap hari (senin-jum’at) dan dari jam 07.45-10.45 (senin-kamis) dan 07.45-09.45 (jum’at) dan ketiga “materi” belajar yang tampaknya jauh akan lebih “berat” dibandingkan waktu di sekolah Sanggar Bona dulu (sesuai dengan kelasnya yang sekarang, PG besar :) ).

Sekolah Al Jannah, dari rumah kami jaraknya sekitar 7-10 km. Kalau sangat lancar dan tidak ikut putar-putar ikut jemputan, jarak tempuh rumah-sekolah kurang lebih 15-20 menit. Lumayan jauh kan ya :D. Dan, berhubung kami berdua tidak bisa mengantar jemput Aliyyah setiap harinya, untuk transportasinya kami ikutkan Aliyyah pada mobil antar jemput sekolah. Namanya juga ikut antar jemput, ya mau tidak mau harus mengikuti “aturan main” mobil jemputan, diantaranya harus rela diajak berputar-putar dulu menjemput dan mengantar teman-teman semobil jemputannya itu :(

Tadi pagi saja, kebetulan untuk hari pertama ini tadi (dan inysa Allah sampai rabu) saya yang mengantar Aliyyah ke sekolah. Jadilah saya ikut merasakan pengalaman ikut dijemput dan diantar mobil jemputan. Duuuuuuh sempet agak sebal. Gimana ngga, mengingat ini hari pertama, saya sudah “persiapkan” aliyyah “sepagi” mungkin supaya tidak telat tiba di sekolah. Konfirmasi semalam pada driver mobil jemputan yang akan ditumpangi anak saya dibilang akan datang jemput sekitar 1/2 7, ternyata lewat sampai jam 3/4 7 (he he he, jam 6.45). Meleset 15 menit yang cukup membuat saya kesal. Untung Aliyyah memang terbiasa bangun pagi, mandi dan sarapanpun demikian. Jadi saya tidak terlalu merasa bersalah karena tidak pakai acara membangunkan dan memaksanya mandi. Alhamdulillah juga, sebalnya saya tidak menular ke Aliyyah. Ia tetap semangat dan sabar menunggu mobil jemputannya datang. Eh pas sudah naik mobilpun ternyata kami masih harus ikut berputar-putar lagi, menjemput anak-anak lain di kompleks perumahan kami yang satu jemputan dengan mobil jemputan Aliyyah. Grrrrh, tambah kesal …. hampir semua anak yang mau dijemput itu ternyata pada ngga masuk sekolah. Ya Tuhan … coba kalau orang tua dari anak-anak itu mau berbaik hati dan menyadari “capeknya” ikut berputar-putar, mau mengabari pada drivernya untuk tidak usah datang menjemput. Keterlaluan :(

Setibanya di sekolah, ya namanya saja anak-anak, pasti akan butuh waktu untuk beradaptasi. Bertemu dengan orang baru dan lingkungan baru, pastilah tidak setiap anak bisa langsung nyaman. Untung Aliyyah tadi nyampe sekolah belum banyak teman-temannya yang datang, jadi lumayan bisa leluasa melakukan kegiatan yang ia sukai. Pun guru-guru juga jadi bisa lebih “fokus” menyambut dan menerima salam Aliyyah. Dampaknya positif, Aliyyah lumayan bisa merasa nyaman. Lalu untuk menjaga moodnya tetap senang dan nyaman, saya ajak Aliyyah bermain-main di luar kelas sambil menunggu teman-teman sekelasnya datang. Ya istilahnya warming up gitu kali ya … pemanasan sebelum masuk pada kegiatan “inti” sekolah, yakni belajar dalam kelas. Alhamdulillah, setelah puas bermain-main jungkat-jungkit, perosotan, titian, ayunan, dan panjat tambang, Aliyyah tambah semangat mengikuti kegiatan kelasnya :)

Kembali ke tantangan-tantangan yang saya sebutkan diatas, memang benar saya harus “membekali” Aliyyah dengan sikap semangat. Jarak sekolah yang lumayan jauh, lalu ditambah dengan lamanya “durasi” naik mobil antar jemput tentunya memungkinkan Aliyyah capek dan bosan. Apalagi di sekolah ia juga akan “belajar” dengan periode waktu yang lumayan panjang juga, dari jam 08.45-10.45 dan dengan “materi belajar” yang lebih susah. Walau teorinya kegiatan belajar tersebut akan terus dilakukan dengan cara bermain, tetap saja itu berpotensi melelahkan dan membuat “stress” anak. Nah apalagi kegiatan-kegiatan itu akan ia lakukan rutin setiap harinya, dari senin sampai jum’at. Apa tidak kedodoran kalau ia tidak punya semangat ?

Insya Allah, semoga ya nak … apa yang engkau mintakan dan panjatkan pada Allah, Allah kabulkan dan karuniakan itu padamu. Mudah-mudahan semangatmu terus tetap terjaga, menjadi energimu dalam menjalani hari-hari di sekolah yang engkau cintai, tempatmu mewujudkan mimpi dan cita-cita. Amiin.


TAGS sekolah mandiri


-

Author

Follow Me